Crafternity Thoughts

dua ratus ribu rupiah!

15 Januari 2018, kira-kira tiga bulan lalu, waktu itu ikutan acara berbayat (belanja bareng anak yatim) bisa di search instagramnya laskarsedekah. Sejak lama memang ingin bergabung sama acara ini, dan kebetulan tanggal yang cocok baru bulan Januari lalu. Sedih sih karena beberapa acara laskar sedekah belakangan ini bentrok sama kerjaan lain, jadi tidak bisa ikutan hiks.

Sejujurnya ikut acara seperti ini memang healing bagi aku, setelah lulus kuliah aku suka bertanya “what is the purpose of my life? why do I exist? what is the meaning of my exsitance?”-dan mengapa-mengapa lainnya. Sebab hidup aku cuma sekadar bangun, isi perut, cari duit, nonton, begitu seterusnya. Suatu ketika merasa emang wah ga berguna banget sih idup aku. Sampailah aku bertemu lagi dengan satu teman SMA ku, namanya Egga. Yup dari dialah aku sering diajak ikutan acara-acara menyenangkan ini. Dan dari dia pula aku bisa cerita tentang ini.

Egga (belakang jilab abu2 wkwk)

 


 Pernahkah kamu berfikir, apa yang akan kamu dapat dari uang 200 ribu?


 

Yup dua ratus ribu! dengan duit  ini apa yang bisa kamu lakukan? ga kurang ga lebih cukup dua ratus ribu aja. Oh sebelumnya aku ceritain dulu tugas aku di acara berbayat itu ngapain. Jadi di berbayat kami akan bertugas untuk mendampingi satu anak berbelanja. Setiap anak didampingi satu orang dan tiap orang pendamping diberi uang sebesar 200k (ga boleh lebih, pendamping juga tidak boleh nombokin, ini bahaya takut menimbulkan kecemburuan. Ga boleh sisa, boleh sih sisa misal seribu dua ribu, biasanya dibalikin ke anaknya, yup karena itu hak dia, ga mau dong besok pas hisab ditanyain perkara uang seribu ini??hha semacam tak punya dosa yang lain aja). Selain bertugas untuk bawa uang, kami juga wajib mengawasi agar anak tersebut tidak membelanjakan uang untuk keperluan yang kurang bermanfaat. Uang tersebut tidak boleh dibelanjakan untuk Make-up kakak/ibunya, ataupun mainan, apalagi rokok, haram lah hukumnya buat belanja ketiga barang tersebut. Anak yang ku dampingi waktu itu bernama Wahyu. List barang yang akan dibeli oleh Wahyu pun ku minta. Di kertas itu tertulis baju kemeja, sarung, buku, peci, sendal, susu dan sosis. Awalnya aku shock liat list tersebut. Semacam menerka-nerka, cuma 200 bisa gitu dapet itu semua (FYI, itu list seaslinya cuma baju, sandal, susu, sosis. Merasa keren ga sih aku haha, bisa dapet tambahan peci dkk hihi, kembalian dua ribu pun). Jujur dari sini aku jadi mikir banyak, 200 ribu ku pake apa yaa biasanya?? Makan? bensin? belanja bulanan? bayar Wi-fi aja masih kurang itu mah. Kalo belanja di crafternity segitu cuma bisa dapet papercut satu atau 4 talenan harga 50k.

crafternity

Atau dapet satu slop rokok ini yang ternyata perlu nambah 50k. Oh ya, keluarga inti aku ini ga ada yang perokok gak bapak gak kakak aku laki-laki, jadi pas bapak aku pulang, beliau ini membelikan om ku yang perokok itu untuk ucapan terimakasih, iseng2 ku bertanya segitu berapa dan beliau bilang dua ratus lima puluh ribu. Boleh dibenarkan yaa misal harganya salah atau gimana, seriusan diriku pun sudah coba cek malrboro merah satu slop 250.500 di Tokopedia wkwk. Aku pun shock karena ternyata semahal itu. Perokok itu kaya (pikir ku sambil berhitung setaun abis berapa). Dan ku pun mulai mengerti artinya bakar uang hha. Aku mengerti itu hak pribadi dan selama kita hidup saling ngerti it’s okay (murni karena shock sama harga rokok).

Tau ga dari semua itu apa bedanya? Rasa di hati. Sekalipun dua ratus ribu kemarin bukan uangku, tapi rasanya bisa membelanjakan uang dengan nominal yang sama dengan barang yang lebih berguna bagi orang lain itu membahagiakan. Mungkin ini yang selalu disebutkan bahwa ketika kita bersedekah sejujurnya itu semua tidak mengurangi apapun dari kita (kali ini bersedekah waktu) yang didapat remainder bahwa uang segitu untuk si Wahyu bisa buat beli banyak hal, sedang buat ku ga banyak dan belum tentu berguna. Selain itu dapet rasa bahagia di hati. Seriusan itu indescribable. Satu lagi, rasa syukur akan nikmat yang udah dikasih sama Allah. Percayalah, langit aja berlapis-lapis begitupun penderitaan, ujian dll. Semua orang punya masalah, tapi jangan lupa bersyukur sama apa yang dipunya. Ujian tiap manusia itu berbeda.

Cukup diingat bahwa dalam kondisi berkecukupan maupun kekurangan keduanya adalah ujian.

*anaknya kurang bisa nulis, makanya blog ini ada. Ini tantangan buat aku hhe. Sila dikomen biar nulisnya jadi bagus hhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *